by

Yuk Lihat Tradisi Warga Banjar Solo Berbagi Bubur Samin Di setiap Ramadhan

Wisatahalal.com | Solo Tradisi unik berbuka puasa dengan bubur Samin di bulan Ramadan, sudah berlangsung seabad lebih di RT 3 RW 8, Kelurahan Jayengan, Solo. Bertempat di Masjid Darusslam Jalan Gatot Subroto 161, warga Solo keturunan Banjar, Kalimantan Selatan selalu menyediakan 1.000 porsi bubur untuk warga. Sebanyak 800 porsi dibagikan gratis kepada warga dan 200 porsi untuk mereka yang berbuka puasa di masjid.

Selama sebulan penuh, takmir masjid memasak bubur Samin untuk dibagikan secara gratis. Disebut Bubur Samin karena bubur dimasak dengan menggunakan minyak samin sebagai penyedap. Bubur itu juga dikenal dengan nama Bubur Banjar, mengacu tempat asalnya, Kota Banjar.

Menurut Takmir Masjid Darusalam, HM Rosyidi Mochdlor, tradisi membuat bubur Samin dimulai sejak Masjid Darusalam didirikan. Yakni tahun 1911 oleh masyarakat asal Banjar yang merantau ke Solo untuk berdagang intan dan batu permata. Hingga kini mereka tetap meneruskan tradisi nenek moyangnya tersebut.

“Ini tradisi nenek moyang kita, membuat bubur Samin sebagai menu berbuka dan dibagikan gratis. Dalam sehari minimal kita habiskan 50 kilogram beras. Anggarannya dari bantuan masyarakat, sehari bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta untuk membuat bubur dan minuman kopi susu,” ujar Rosyidi, Jumat (2/6).

Sekilas, bubur Samin seperti layaknya bubur pada umumnya. Selain beras, komposisi bubur juga dicampur santan, aneka sayur dan rempah-rempah, susu, serta daging sapi. Aroma bubur semakin kental dengan campuran rempah-rempah serta minyak kapulaga Arab atau minyak Samin.

Pembuatan bubur Samin dipusatkan di Masjid Darussalam, Jayengan. Proses memasak dimulai pukul 12.00 hingga 15.00 WIB. Selepas salat Asar atau sekitar pukul 16.00, ratusan warga pun berdatangan sambil membawa piring dan rantang untuk mengambil bubur.

Tradisi membuat dan berbuka dengan bubur Samin, kata Rosyidi, pertama kali dilakukan oleh Yusuf Solawat dan Akhri Zein. Tradisi tersebut terus berlanjut hingga Langgar Darusalam diperbaiki pada tahun 1930-an, tetapi masih sebatas untuk internal jemaah masjid.

Hingga Langgar Darusalam dibangun menjadi sebuah masjid pada tahun 1965, tradisi bubur Samin masih terbatas. Baru setelah tahun 1985, bubur Samin dikenalkan kepada masyarakat umum dengan membagi-bagikannya secara gratis selama bulan Ramadan.

“Rasanya sangat gurih, enak, segar dan hangat, karena menggunakan bumbu rempah-rempah. Sangat cocok jika dimakan untuk berbuka puasa,” pungkasnya  (al)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed